Solidaritas Umat Islam Indonesia untuk Palestina

Dari Doa hingga Aksi Nyata di Tengah Krisis yang Berlanjut

Di tengah ketegangan yang masih membayangi Jalur Gaza pasca-gencatan senjata Oktober 2025, solidaritas umat Islam Indonesia tetap menjadi salah satu yang paling konsisten di dunia. Meski konflik belum sepenuhnya usai dan krisis kemanusiaan terus menggerogoti kehidupan warga Palestina, semangat persaudaraan dari Nusantara tidak pernah pudar.

Solidaritas ini bukan sekadar ungkapan emosi sesaat. Ia telah menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat, dari organisasi besar seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga komunitas lokal dan aktivis lintas sektor. Melalui NU Care–LAZISNU, misalnya, bantuan air bersih ratusan ribu liter telah disalurkan ke Gaza dan Deir Balah. Program Iftar Nusantara Bersama Gaza pada Ramadan 1447 H juga berhasil menghubungkan lebih dari 1.600 anak yatim dari berbagai daerah di Indonesia dengan semangat kepedulian lintas negara.

Di banyak masjid dan pesantren, doa qunut nazilah untuk Palestina masih rutin dikumandangkan. Khatib Jumat kerap menyampaikan khutbah tentang Al-Aqsa dan penderitaan saudara-saudara di sana, mengingatkan umat bahwa kepedulian terhadap yang tertindas merupakan bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Bahkan di kalangan muda, gerakan boikot produk terkait agresi Israel terus digalakkan sebagai bentuk tekanan ekonomi damai.

Aksi di lapangan pun tak kalah aktif. Sepanjang awal 2026, berbagai demonstrasi damai digelar di Jakarta, Bandung, Pontianak, Sangatta, dan kota-kota lain. Massa berkumpul di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat atau gedung DPR, membawa bendera Palestina sambil menyerukan perdamaian yang adil. Beberapa kelompok seperti Aksi Jumat untuk Palestina dan Komite Solidaritas Palestina dan Yaman (KOSPY) secara rutin menggelar long march dan aksi damai. Di sisi lain, muncul pula Indonesia for Palestine Movement yang melibatkan aktivis lintas sektor untuk memperkuat advokasi kemanusiaan, keagamaan, dan media.

Di tengah dinamika politik luar negeri Indonesia yang ikut dalam Board of Peace (BoP), umat Islam Indonesia menunjukkan sikap kritis namun konstruktif. MUI dan beberapa ormas menyuarakan agar dukungan terhadap Palestina tidak sekadar simbolis, melainkan harus mengarah pada kemerdekaan sejati dan penghentian penjajahan. Perbedaan pendapat ini justru mencerminkan kedewasaan: tetap solid dalam prinsip, tapi terbuka dalam mencari jalan terbaik bagi perdamaian.

Solidaritas umat Islam Indonesia kepada Palestina sebenarnya bukan hal baru. Sejak lama, ikatan historis dan emosional ini telah tertanam kuat — dari dukungan diplomatik era Soekarno hingga gerakan kemanusiaan hari ini. Yang membuatnya istimewa adalah pendekatannya yang rahmatan lil alamin: menggabungkan doa, bantuan konkret, advokasi, dan penguatan kesadaran masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai perdamaian dan kemanusiaan.

Bagi setiap Muslim di Indonesia, solidaritas ini adalah panggilan hati sekaligus amal saleh. Tidak harus selalu turun ke jalan; donasi melalui lembaga terpercaya, menyebarkan informasi yang benar, mendidik anak-anak tentang sejarah Baitul Maqdis, atau sekadar mendoakan ketabahan saudara-saudara di Gaza — semuanya bernilai. Di era digital ini, satu unggahan yang penuh empati pun dapat menyentuh hati banyak orang.

Solidaritas umat Islam Indonesia mengingatkan kita semua bahwa keadilan dan kemanusiaan tidak mengenal batas negara. Semoga semangat ini terus menyala, menjadi jembatan harapan bagi Palestina, sekaligus bukti bahwa umat Islam Nusantara siap menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton dalam sejarah kemanusiaan dunia.

Updated: April 13, 2026 — 5:37 pm

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *